Warisan Muslim Kamboja di Paman Sam
Posted by afdoal on January 14, 2009
Kota Santa Ana, Kalifornia kini menjadi salah satu kota bagi ratusan muslim di Amerika, terutama dari keluarga Kamboja. Komunitas muslim ini datang 30 tahun lalu setelah mengungsi dari kampung halaman akibat penindasan rezim Khmer Merah. Mereka terkenal karena ketaatannya dengan Islam.
“Agama adalah cara hidup,” ujar Ghazaly Salim, seorang petugas pemasang telepon yang menghabiskan sebagian waktunya pergi ke masjid lokal, seperti yang dilansir oleh Los Angeles Times.
Komunitas tersebut terkenal pula akan kebiasaan berbagi peristiwa bahagia dan bekerja sama bahu-membahu di hal sulit. “Ini yang diajarkan oleh kakek dan leluhur kami,” tekan Ghazaly, yang juga membantu membentuk komunitas 30 tahun lalu.
Mereka berasal dari etnis Cham, ras keturunan Kerajaan Champa, yang tinggal di pinggir pantai–kini dikenal sebagai Vietnam–pada abad ke-2 Masehi
Antara periode naiknya Kekaisaran Khemr dan terdorongnya teritori Vietnam ke selatan, Kerajaan Champa pun mulai menghilang. Agama pertama Champa adalah Hindu yang dibawa dari India melalui laut.
Namun ketika pedagang Arab singgah di sepanjang pantai Vietnam dalam rute ke Cina, Islam pun mulai masuk, dan mayoritas penduduk Cham banyak memeluk agama ini.
Kini Cham adalah suku tanpa tanah air. Komunitas mereka, sekitar ratusan ribua tinggal terpencar-pencar sebagai pengungsi di penjuru Asia dan belahan dunia lain. Begitu pun etnis Cham tetap bagian dari inti komunitas muslim di Kambodia dan Vietnam. Mereka berbicara dalam rumpun bahasa Melayu.
Ketika pertama kali tiba dan menetap di Santa Ana tiga dekade lalu, hal pertama yang dilakukan keluarga Cham ialah membangun sebuah masjid.
Selama tiga tahun, dana dikumpulkan dari gaji kecil tiap anggota dan bantuan dari muslim Arab setempat, hingga akhirnya cukup untuk membeli satu unit apartemen lalu diubah menjadi masjid. Bertahun-tahun sudah masjid tersebut menjadi pusat komunitas, dengan sebagian besar anggota tinggal di kawasan tersebut.
Komunitas Cham di Santa Ana kini telah berkembang. Bahkan mereka telah memiliki sekolah informal untuk mendidik generasi muda tentang agama.
Toh tetap ada sedikit dari anggota komunitas yang tertarik keluar dari akar leluhur, seperti Nasia Ahmanth. Ia masih bayi ketika ayahnya, El Ahmanth, memimpin pengungsi desa Cham menetap di Santa Ana. Lalu di usia 17 tahun ia mengidap kecanduan narkoba.
Dua tahun lalu Nasia meninggalkan lingkungannya dan mengambil jarak akibat kecanduan parah yang sering kali memanfaatkan teman.
Akhirnya tahun lalu ketika ayahnya meninggal, ia menemukan hasrat kembali pulang, dan ingin membangun ikatan lagi dengan lingkungan dulu ia tinggal. “Saya ingin anak lelaki saya tahu apa itu Cham,” ujar Nasia, kini 30 tahun.
Ia paham, salah satu langkah mendasar untuk menemukan lagi ‘rumahnya’ ialah dengan menerima kembali pula agama, yang pernah ia tinggalkan beberapa lama. Nasia mendapat kesempatan itu dalam awal puasa Ramadan lalu. Ini adalah saat ketika para orang tua bangga terhadap anak-anak mereka,” ungkapnya



















Melayu Boleh said
takkan melayu hilang di dunia.orang melayu memang boleh.